artikel

Life as Technopreneur with Asep Bagja

By  | 

img_20160928_120414

Mau belajar programming tapi mesti kuliah IT dulu? Siapa bilang?

Pada tanggal 28 September 2016, Student Job Indonesia bersama Dreamers Radio mengudang Asep Bagja. Asep Bagja merupakan CTO dan Co-Founder dari Froyo, sebuah digital marketing agency dengan nama Froyo Story. Pada awal 2016, Asep bersama tim nya menambah unit bisnis baru bernama Froyo Framework (ww.framework.id). Froyo Framework ini bisnisnya adalah mengajari orang untuk belajar programming, bersifat Offline (tatap muka langsung) dan didampingi oleh seorang mentor.

Asep yang merupakan lulusan Akuntansi ini mengaku belajar programming dan coding secara otodidak. Berawal dari kesenangannya mengutak-atik computer sejak kecil dan diperkenalkan dunia programming oleh guru Akuntansinya ketika SMA membuat passion Asep di bidang tersebut semakin besar. Setelah lulus kuliah, Asep memperdalam ilmu programming nya, lalu bekerja sebagai freelance programmer. Sebelum akhirnya mendirikan Froyo, Asep sempat membangun bisnis bersama beberapa rekannya namun terhenti di tengah jalan.

Cowok yang senang dengan berkebun ini mengatakan bahwa teknologi itu hanya alat bantu. Pada dasarnya teknologi menempel di setiap pekerjaan dan karir apa pun. Misal: kamu musisi, Kamu memproduksi lagu menggunakan komputer, itu artinya kamu sudah menggunakan teknologi digital di karirmu, Atau kamu petani, lalu belajar tentang machine learning. Kamu bisa memprediksi panenmu dengan lebih akurat. Kamu akuntan? Bisa melakukan otomatisasi book keeping kalau kamu mengerti pemrograman. Intinya kalau paham teknologi dan pemrograman. Sky is your limit.

Lebih lanjut, Asep mengutarakan bahwa ada gap yang cukup besar antara kebutuhan industri dengan supply tenaga kerja di bidang IT. Kualitas lulusan S1 IT juga tidak sesuai standar industri. Banyak yang belum siap kerja. Di penghujung acara, Asep berpesan agar jangan gampang patah semangat kalau nemu masalah di pemrograman. Tanya di forum atau tanya mentor. Belajar bahasa Inggris minimal baca tulis. Karena kebanyakan literatur itu dalam Bahasa Inggris. alau tertarik untuk belajar programming hardware. Belajar juga Mandarin. Kebanyakan dokumentasi pakai Hanzi. Asah terus. Biarkan dirimu terpapar banyak masalah pemrograman, semakin sering terpapar skill-mu makin tajam. Yang paling penting jangan gampang menyerah.

 

 

mm
Jiwa muda yang lagi belajar psikologi, digital, youth and employment. Hidup itu cuma sekali, berbagilah 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *