artikel

Mengolah Sukses dengan Bisnis Makanan Ringan

By  | 

Dengan memanfaatkan komoditas lokal, Marjiati br Sembiring Meliala bangkit dari bencana. Ia sukses menjadi seorang pengusaha perempuan. Dia mengolah produk makanan untuk mendukung keluarganya dan berkontribusi terhadap kesejahteraan komunitasnya.

 Copyright: ILO/G. Lingga (2017)


Bencana dan kerugian usaha yang dialami tidak menghalangi Marjati br Sembiring Meliala, 42 tahun, untuk berbagi keterampilan barunya dalam produksi dan usaha makanan ringan dengan perempuan-perempuan lain di wilayah yang terkena dampak letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ia aktif mengajarkan kelompok-kelompok perempuan bagaimana cara memproduksi stik sayuran menggunakan sumber daya alam setempat seperti ubi ungu, brokoli, jagung, wortel, labu dan seterusnya.

“Dengan berbagi keterampilan ini, saya harap lebih banyak kelompok perempuan dapat membangun bisnis makanan ringan dengan memanfaatkan komoditas lokal mereka sendiri. Saya tidak takut dengan kompetisi karena saya percaya peluang pasar bisnis ini cukup cerah. Saya berharap mereka dapat membangun kehidupannya setelah bencana serta mendukung keluarga mereka,” katanya dengan antusias.

 

Marjiati dan suaminya kehilangan kebun jeruk dan usaha pupuk mereka di Desa Gunpinto akibat letusan Gunung Sinabung pada 2010. Mereka bahkan harus dievakuasi dari desanya untuk sementara sebelum diperbolehkan untuk kembali.

 

“Saya suka memasak dan saya menyambut peluang yang ditawarkan ILO untuk bergabung dalam pelatihan membuat makanan ringan selama 20 hari. Bersama dengan 19 peserta lainnya, kami belajar bagaimana membuat stik menggunakan kentang dan ubi ungu,” ujarnya.

 

ILO melalui “Program Bantuan Pemulihan Gunung Sinabung” (SIRESUP) menyediakan serangkai pelatihan, menggabungkan pelatihan keterampilan, kewiraswastaan, pendidikan keuangan, pemasaran serta dukungan pasca-pelatihan. Berakhir pada Maret 2017, program bersama ILO-FAO-UNDP ini didukung oleh Badan Pembangunan dan Bantuan Internasional Selandia Baru (NZAID).

 

Dengan peralatan memasak yang disediakan oleh ILO sebagai dukungan pasca-pelatihan, Marjiati mulai bereksperimen mengolah stik berbagai rasa dengan memanfaatkan komoditas lainnya di desanya. Ia tanpa mengenal lelah menguji dan mencoba berbagai komposisi tepung, telur, sayur-sayuran dan berbagaibahan hingga memperoleh komposisi dan resep yang tepat.

 

“Sejauh ini saya memiliki sekitar delapan rasa yang menggunakan komoditas lokal. Daripada sekedar menjual sayur-sayuran sebagai sayuran, saya mengubahnya menjadi produk dengan nilai tambah seperti ini, dan saya memperoleh pendapatan yang lebih banyak,” ujarnya menjelaskan.

 

Banjir pesanan kini tidak hanya datang dari daerah sekitar seperti Kabanjahe dan Brastagi, namun juga dari Jakarta melalui promosi dari mulut ke mulut. Produk olahan Marjiati yang dinamai Sinabung dijual di kafe, hotel, restoran serta pusat-pusat kerajinan tangan di Brastagi, yang merupakan daerah wisata terkenal di Kabupaten Karo.

 Copyright: ILO/G. Lingga (2017)

Kini dia mendedikasikan dirinya ke dalam usaha produksi makanan ringan. Setelah menyelesaikan tugas rumah tangga sehari-hari, ia menghabiskan enam jam atau lebih untuk memproduksi stik berbagai rasa. Dia kini dibantu tiga asisten muda yang bekerja selama 4-5 jam per hari dengan upah Rp 50 ribu.

 

Sekarang ia dapat memperoleh penghasilan Rp 3-4 juta per bulan yang ia pergunakan untuk membantu suaminya, Martin Sitepu. Putri semata wayangnya pun disekolahkan di  sekolah menengah di Medan, ibukota Sumatera Utara. 

 

“Saya tidak pernah berpikir akan menjadi pengusaha seperti sekarang. Bertani adalah satu-satunya kehidupan saya sebelumnya dan menjadi sumber nafkah yang kami pahami caranya. Saya berharap dapat memperluas usaha dan mampu membeli peralatan yang lebih modern sehingga dapat memenuhi pesanan-pesanan yang masuk,” lanjutnya. 

 

Produksi stik terbaru Marjiati adalah stik kulit kopi. Awalnya bermula ketika ia terganggu melihat tumpukan kulit biji kopi yang dibuang sebagai sampah. Ketika menelusuri internet, ternyata kulit kopi digunakan sebagai makanan ringan di Eropa.

 

“Stik dari kulit kopi adalah penemuan terbaru saya dan para pelanggan menyukainya. Sekarang stik rasa ini yang paling dicari dan saya selalu kehabisan. Saya senang dapat mengubah biji kopi yang tak terpakai menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sekarang, saya mencari rasa-rasa baru guna menjajaki lebih lanjut komoditas-komoditas lokal yang dapat dimanfaatkan di Kabupaten Karo sehingga dapat membawa manfaat bagi kita semua,” ujarnya. (*)

mm
Situs kerja khusus pelajar, mahasiswa dan baru lulus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *