artikel

Merajut Mimpi akan Kehidupan yang Lebih Baik Setelah Bencana

By  | 

Peluang mengikuti pelatihan keterampilan dan pemberian sebuah mesin jahit sederhana menjadi kunci kekuatan seorang perempuan untuk bangkit dari bencana serta memberdayakan diri dan keluarganya.

                                                                      Copyright: ILO/G. Lingga (2017)

Suara mesin jahit listrik bergema dari rumah Yuni Astuti, ibu dari seorang anak perempuan berusia 10 tahun, di daerah relokasi Siosar di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dengan terampil dia menjahit sebuah kebaya merah. Ia mampu menyelesaikan 30 baju, rok, dan blus dalam sebulan.

 

“Saya dapat menyelesaikan jahitan satu baju atau satu rok dalam sehari. Namun, untuk baju atau kebaya bersulam bordir butuh waktu seminggu karena saya harus mengirimkannya ke tukang bordir di Kabanjahe,” ujar Yuni. Kabanjahe adalah ibukota Kabupaten Karo, sekitar 45 menit perjalanan dari Siosar.

 

Melihat jejeran kebaya, blus dan rok yang tergantung di ruang tamunya menunggu untuk diambil oleh pelanggan, tidak ada yang membayangkan bila Yuni baru saja belajar menjahit kurang dari setahun yang lalu. Ia adalah salah satu peserta pelatihan menjahit yang diselenggarakan ILO melalui “Program Bantuan Pemulihan Gunung Sinabung” (SIRESUP) pada pertengahan tahun 2015. Berakhir pada Maret 2017, program bersama ILO-FAO-UNDP ini didukung oleh Badan Pembangunan dan Bantuan Internasional Selandia Baru (NZAID).

 

Setelah letusan Sinabung pada 2013, Yuni dan keluarganya terpaksa meninggalkan desa dan perkebunan kopi mereka. Selama tiga tahun, mereka harus tinggal di penampungan pengungsi di Kabanjahe dan bekerja serabutan untuk menafkahi hidupnya. Ia tertarik untuk mengikuti pelatihan menjahit agar dapat memperoleh penghasilan yang lebih baik, namun tidak memiliki uang untuk membayar biaya pelatihan.

 

“Benar, kita tidak boleh menyerah. Ketika saya pikir harus melepas mimpi saya,saya justru menerima tawaran dari ILO untuk berpartisipasi dalam pelatihan menjahit selama 20 hari. Saya sangat gugup selama mengikuti pelatihan karena  tidak tahu apa pun mengenai menjahit, membuat pola, memotong kain dan mengukur badan,” tutur Yuni menceritakan kembali pengalamannya bergabung dalam pelatihan. 

 

Ia pernah ditegur oleh pelatih karena salah memotong kain. Namun, ia mengganggap ini sebagai penyemangat untuk menjalani pelatihan dengan lebih baik. Setelah mengikuti pelatihan, ia berusaha memperbaiki keterampilan menjahitnya dengan mencoba magang di usaha jasa penjahit. 

 

“Saya hanya ingin belajar dan mendapatkan pengalaman. Namun tidak ada yang mau menerima saya karena saya tidak memiliki pengalaman. Namun, saya tidak mau menyerah. Saya kemudian meminta fasilitator ILO untuk menemukan pelanggan sehingga saya bisa memulai usaha menjahit,” urainya.

                                                            Copyright: ILO/G. Lingga (2017)

Ketika mengenang pelanggan pertamanya, Yuni ingat betapa takutnya dia. Ia takut tidak dapat menyelesaikan pesanan dengan baik. Pengalaman yang mengesankan adalah ketika ia tidak dapat memenuhi permintaan rancangan pelanggannya. Ia memutuskan untuk berkonsultasi kepada pelatihnya, mempelajari bagaimana cara mengubah pola.

 

“Pelatih menegur saya dengan mengatakan bahwa saya seharusnya tidak menerima pelanggan apabila saya tidak memahami desain dan pola. Namun saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa tidak masalah berbuat kesalahan dan saya bisa belajar dari kesalahan itu. Saya bertekad untuk membuat usaha jahit saya menjadi sukses,” ujarnya.

 

Tekad itu sekarang membawa hasil. Ia dapat membantu keluarganya dan memperoleh Rp 1 juta tiap bulan. Selama musim liburan hari raya, ia dapat memperoleh dua kali lipat. Selain mendapatkan sebuah mesin jahit, ia juga dilengkapi dengan sebuah mesin obras sebagai bagian dari dukungan pasca-pelatihan dari ILO. Untuk mempelajari desain baru dan model busana yang sedang ngetren, Yuni pun rajin membaca majalah mode dan perempuan atau menelusuri situs-situs yang mengulas tentang busana.

 

Di usianya yang ke-33, Yuni terus berupaya meningkatkan diri dan usahanya. Selain pelatihan menjahit, ia berpartisipasi dalam pelatihan lainnya guna mengembangkan bisnis. Ia telah mengikuti pelatihan pendidikan keuangan,kewirausahaan serta produk dan jasa.

 

“Saya memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun usaha jahit saya. Saya juga aktif dalam koperasi sebagai bendahara karena saya sadar bahwa sebagai seorang wirausaha, kita perlu memiliki akses yang lebih baik ke lembaga keuangan,” ujarnya dengan senyum lebar. (*)

 

mm
Situs kerja khusus pelajar, mahasiswa dan baru lulus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *