artikel

An Unexpected Experience : Pengalaman penuh warna di Konferensi Psikologi Internasional

By  | 

IMG_20150826_174150Bulan Agustus ini adalah bulan penuh kejutan! Bagaimana tidak, di bulan Agustus ini, aku mendapatkan kabar baik yang benar-benar membuatku merasa my dreams come true! Aku banyak mendapatkan pengalaman, ilmu, dan teman baru beserta hal-hal yang tak disangka-sangka akan aku alami di bulan ini.

Di bulan agustus aku berkesempatan hadir dan presentasi di sebuah acara berskala Internasional di Jatinangor, Sumedang Yaitu The 7th International of AAICP Conference. Sebuah Konferensi Psikologi Internasional  yang diadakan oleh Asian Association of Indigenous and Cultural Psychology dan Universitas Padjadjaran. Tapi, ternyata Tuhan seakan-akan ingin mengajariku sebuah perjuangan dan pengorbanan sebelum benar-benar mendapatkan kebahagiaan atas kejutan yang diberikanNya.
Awalnya, aku melakukan sebuah penelitian psikologi bersama dosenku. Setelah penelitian itu selesai, dosenku menyarankan aku agar mengirimkan abstrak penelitian ke panitia The 7th International of AAICP Conference. Saat mendengar hal tersebut, aku senang namun juga terselip rasa ragu. Ini adalah penelitian ilmiah pertamaku dan kalau abstrakku diterima, maka ini adalah kali pertama aku menghadiri sebuah konferensi psikologi berskala internasional. Aku ragu apakah nanti aku mampu mempresentasikan hasil penelitianku dengan bahasa inggris, apakah nanti aku mampu menjawab pertanyaan dari para audience, atau apakah aku benar-benar siap menghadiri konferensi tersebut. Tapi hati kecilku berkata, bahwa inilah saatnya aku keluar dari zona nyaman dan saatnya untuk menantang diriku sendiri jika aku ingin selangkah lebih maju dan lebih dekat dengan mimpiku. Akhirnya aku pun memantapkan diri untuk mengirimkan abstrak penelitian kepada panitia The 7th International of AAICP Conference.

Beberapa minggu kemudian, aku harap-harap cemas menunggu notifikasi dari pihak panitia apakah abstrakku diterima atau tidak. Menurut jadwal di website, seharusnya aku sudah mendapatkan pemberitahuan pada tanggal 30 Juli 2015. Namun hingga awal agustus aku belum juga menerima kabar. Saat itu aku berpikir mungkin memang ini bukanlah rezeki dan kesempatanku untuk hadir di acara tersebut. Hingga akhirnya pada H-7 acara, aku baru dapat email notifikasi bahwa abstrakku telah diterima dan namaku telah tercantum sebagai salah satu presenter di konferensi tersebut. Aku kaget namun juga senang luar biasa. Setelah mengetahui hal tersebut, akhirnya aku langsung mengontak dosenku sekaligus menanyakan bantuan yang mungkin dapat aku terima dari pihak kampus untuk ke acara tersebut. Namun komunikasiku dengan dosen agak terhambat karena beliau sedang di luar negeri.

Pada H-3, aku benar-benar galau. Galau karena aku masih nunggu kabar dari dosen, galau karena aku nunggu kabar kejelasan bantuan dana dari kampus, galau karena aku belum melakukan pembayaran registrasi konferensi, galau karena aku memikiran bagaimana nasibku selama di Jatinangor jika sendirian pergi kesana. Tak mau terlalu lama berdiam diri, aku mulai coba mengontak temanku yang kebetulan kuliah di daerah Jatinangor dan aku pun mulai mendapatkan titik terang. Temanku yang merupakan seorang mahasiswi ITB bersedia menampungku di kamar asrama nya selama beberapa hari dan juga memberikan penjelasan detail untuk rute transportasi dari Jakarta-Jatinangor. Satu masalah mulai terselesaikan.

H-1 acara, kegalauan yang kualami belum sepenuhnya hilang. Aku harus datang ke kampus dan menemui dosen untuk membahas masalah dana dan persiapan materi presentasi. Saat tiba di kampus, setelah menunggu kurang lebih satu setengah jam, dosenku belum datang sedangkan aku harus segera pergi karena ada urusan yang harus kulakukan. Aku coba mengontak dosen lain yang mengurusi bagian kemahasiswaan dan keuangan. Ternyata pihak kampus hanya memberikan bantuan dana sebesar 40% untuk dana pendaftaran konferensi. Mendengar hal tersebut, aku langsung pesimis. Uangku hanya cukup untuk transportasi kesana dan tidak punya uang lagi untuk menutupi biaya pendaftaran konferensi. Karena harapan ikut konferensi sudah pupus, akhirnya aku langsung pergi meninggalkan kampus dan mengatakan pada dosenku bahwa aku membatalkan kepergianku ke konferensi.

Setelah dari kampus, aku bertemu kak Annisa (founder student job) untuk pergi bareng ke kantor Ant Design. Saat di perjalanan, aku menceritakan bagaimana keadaanku yang kualami sehingga membuatku tak memungkinkan untuk ikut ke Konferensi. Lalu, tanpa sama sekali aku duga, kak Annisa akhirnya bersedia memberiku bantuan dan menutupi sisa uang pendaftaran konferensi. Kak Annisa bilang, “Kamu harus bisa datang kesana, kapan lagi kamu bisa dapat kesempatan seperti ini, anggap aja aku ini kakakmu, aku pengen kamu bisa lebih baik daripada aku”. Mendengar hal itu, rasanya aku benar-benar tak percaya, seperti mimpi di siang bolong, ada rasa haru juga bahagia. Akhirnya aku segera mengontak kembali dosenku juga mengontak pihak panitia konferensi apakah masih memungkinkan melakukan pembayaran atau tidak. Saat itu, aku baru selesai dari kantor Ant Design jam setengah 3, sementara jam 3 dosenku pulang dan ruang kesekretariat akan segera ditutup. Aku panic di tengah jalan. Kalau aku sampai telat datang ke kampus, maka aku tidak bisa bertemu dosenku dan tidak bisa mencairkan dana bantuan dari kampus padahal kesempatanku hanya sampai hari itu saja. Aku pun kembali ke keadaan antara optimis dan pesimis saat melihat jam semakin melewati pukul 3 sore dan posisiku masih lumayan jauh dari kampus. Aku akhirnya tiba di kampus pukul 15.45. Bersyukur aku masih dapat bertemu dosenku walau aku harus mengobrol singkat sambil beliau berjalan pulang. Setelah itu aku segera teringat bahwa aku harus segera ke kantor kesekretariatan mengurusi dana. Aku langsung berlari dan berharap kantor sekret belum tutup. Beruntunglah lagi hari itu kantor sekret belum tutup sehingga aku bisa mengambil dana bantuan kampus. Setelah mengambil dana dari kampus, aku segera menuju bank untuk menyetornya ke rekeningku. Ternyata bank nya sudah tutup! Akhirnya aku memutar otak memikirkan cara lain agar bisa menyetor uang. Akhirnya aku harus berjalan kaki ke cabang bank yang lain sejauh ± 1 Km. Sungguh melelahkannya hari itu.

Singkat cerita, aku akhirnya berhasil mentransfer uang pendaftaran konferensi. Setelah aku mentransfer uang ke pihak panitia konferensi, aku pun segera melakukan konfirmasi via Whatsapp kepada pihak panitia terkait. Dan kau tahu balasan dengan apa yang aku dapat? Aku mendapat balasan “Karena pembayaran abstrak sudah ditutup, kami tidak bisa menjanjikan keikutsertaan saudari sebagai presenter, besok akan kami kabari lebih lanjut, Terimakasih”. Membaca pesan singkat itu, aku merasa disambar gledek! Badanku rasanya semakin lemas, aku merasa kecewa dan aku teringat pada kak Annisa juga dosen dan kampusku. Apa yang harus aku katakan pada mereka nanti jika ternyata aku tidak jadi ikut? Bagaimana nasib uang yang sudah terlanjur ku kirim pada pihak panitia? Satu jam kemudian, pihak panitia mengirim Whatsapp dan mengatakan bahwa aku masih berkesempatan hadir dan mempresentasikan abstrakku disana. Rasanya seluruh lelahku hari itu benar-benar terbayar! Aku pun segera menyiapkan keperluanku dan bisa tidur dengan tenang malam itu.IMG_20150827_103418

Keesokan harinya, aku berangkat menuju terminal lebak bulus ke Jatinangor menggunakan Bis Patas AC Ekonomi. Ini pertama kalinya aku pergi sendirian ke daerah yang cukup jauh. Ada rasa takut namun juga rasa senang karena aku bisa merasakan pengalaman baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku yakin suatu saat pengalaman perjalanan ini akan berguna untuk membentukku menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Setelah perjalanan kurang lebih tiga setengah jam, akhirnya aku tiba di asrama ITB Jatinangor. Malamnya, aku menghadiri opening ceremony dan begitu terkesan dengan sambutan yang diberikan oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil. Ini pertama kalinya aku melihat nya dan mendengar pidatonya secara langsung. Sungguh pembukaan acara yang menyenangkan dan menginspirasi. Pada hari kedua konferensi, aku berkesempatan berkenalan dengan teman dari universitas lain. Hari kedua juga tak kalah seru. Aku bertemu dengan para peneliti dari berbagai bidang psikologi dari berbagai institusi bahkan berbagai Negara. Aku juga akhirnya berkesempatan bertemu langsung hingga bertegur sapa dengan kak Seto Mulyadi (Psikolog Anak). Aku berada di satu lift dengannya dan mendengar presentasi kak Seto mengenai Schizophrenia secara live!! Sungguh hal yang tak pernah kusangka akan kualami hari itu. Selain kak Seto, aku juga mendengar presentasi dari berbagai kalangan dan latar belakang. Ada yang masih mahasiswa, lulusan S1, dosen, Lulusan S2, hingga lulusan S3 yang mempresentasikan disertasinya. Aku juga bertemu dan menyaksikan presentasi yang dibawakan oleh orang-orang dari Jepang. Aku sungguh terkesima dengan tema penelitian yang mereka angkat. Mereka mengangkat penelitian yang memadukan ilmu psikologi dengan biomedical dan teknologi. Meskipun mereka tidak sepenuhnya mampu berbahasa inggris dengan baik, tapi mereka tetap percaya diri dan berusaha mempresentasikan penelitiannya dengan baik. Mereka juga cukup ramah dan mudah tersenyum pada peserta lain. Aku banyak belajar dan terinspirasi dari orang-orang Jepang itu. Aku juga bertemu dengan orang yang berasal dari Inggris. Aku juga merasa terkesima sekaligus belajar dari cara orang Inggris itu menyimak dengan baik setiap presentasi yang sedang dibawakan dan daya kritisnya terhadap semua yang dipresentasikan.

IMG_20150827_090719Memasuki hari ketiga sekaligus hari terakhir konferensi, saatnya aku mempresentasikan penelitianku kepada peserta lainnya. Malam sebelum presentasi, aku benar-benar menyiapkannya dengan matang dan berlatih hingga pukul 00.30. Aku tak pernah menyiapkan dan berlatih presentasi hingga seserius ini (semoga bisa terbawa saat presentasi di kuliah :p). Menjelang presentasi, aku cukup gugup dan gemetar tapi tetap berusaha tenang dan percaya diri. Aku memulai presentasi pukul 11.30 dan saat itulah momen yang akan terus kuingat sepanjang hidupku. Aku berhasil mempresentasikan penelitianku dengan bahasa inggris juga mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan lancar. Rasanya sungguh lega dan bahagia aku bisa melewati sesi-ku dan tidak sia-sia aku berlatih hingga tengah malam. Setelah presentasi, aku mengunjungi booth tempat poster session (Penelitian yang dipresentasikan dengan bentuk poster) dan ternyata poster yang dipajang hampir sebagian besar berasal dari Inha University, South Korea. Ya, orang-orang Korea yang banyak mendominasi booth poster. Aku pun menghampiri booth tersebut dan berinteraksi langsung dengan peneliti Korea yang memang stand by dengan posternya. Poster yang dipajang dari Korea kebanyakan membahas mengenai bagaimana persepsi orang-orang Korea tentang daya tarik seseorang (personal attractiveness). Selain bertanya serius tentang penelitian, aku pun juga mengobrol santai dengan menanyakan bagaimana kesan mereka selama di Indonesia. Mereka pun menceritakan pengalamannya selama di Indonesia dengan sangat excited hingga kami pun tertawa riang bersama-sama. Sungguh saat itu aku merasakan betapa indah dan senangnya saat bisa berinteraksi dengan mereka yang berbeda budaya dan bangsa. Aku merasakan bahwa perbedaan warna kulit, fisik, bahasa bukanlah alasan untuk kita tidak bisa saling berinteraksi, berbagi, dan bertukar cerita.

IMG_20150827_113416Terimakasih banyak ya Allah, Engkau telah memberikan kesempatan yang penuh dengan pengalaman dan pelajaran baru untukku. Terimakasih karena akhirnya semua lelahku, perjuangan, dan pengorbananku akhirnya terbayar dengan hasil yang indah 🙂

Penulis :               Sita Farahdina  Zurahma

Mahasiswi Psikologi Univeritas Muhammadiyah Prof.Dr.HAMKA

Farahdina.zurahma@gmail.com/ @sitaasitafz

IMG_20150827_133234

 

 

 

mm
Situs kerja khusus pelajar, mahasiswa dan baru lulus

2 Comments

  1. Sulham Syahid

    February 18, 2016 at 11:11 pm

    Ceritanya sangat menginspirasi sekali. Memberikan semangat baru juga buat saya yang lagi galau karena belum dapat biaya buat konferensi.

    Sukses terus ya.
    Sulham

  2. Winda

    September 16, 2016 at 9:31 pm

    Keren!!!! Salut bgt mbak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *