artikel

Pengalaman Magang di Teluk Bituni Papua – By Ken

By  | 

Berawal dari sebuah obrolan, cerita dan mimpi untuk bisa pergi dan menginjakkan kaki di tanah Papua. Semenjak kuliah selalu memiliki keinginan untuk pergi kesana, entah itu untuk pergi berlibur atau pergi mengabdi. Keinginan untuk melihat sisi timur Indonesia dan menjadi Pulau yang sama sekali belum pernah saya datangi selalu menjadi motivasi untuk bisa pergi kesana bagaimanapun caranya, tetapi selama kuliah selalu mencoba dan gagal, begitu seterusnya.

Mimpi yang dulu hanya menjadi mimpi sekarang terwujud, keinginan dan harapan yang dulu berawal dari obrolan ringan sekarang menjadi kenyataan, hanya beberapa minggu setelah resmi menyandang gelar Sarjana Psikologi akhirnya mimpi menjadi nyata. Akhirnya Tuhan memberikan aku kesempatan untuk bisa melihat keindahan dan menginjakkan kaki di bumi cenderawasih.

Saya pergi ke Papua gratis! Bahkan saya dibayar dan mendapatkan banyak ilmu. Program magang yang saya ikuti berawal dari membaca sebuah chat di group, ada kata Papua dan seketika itu saya berminat. Langsung saya kirimkan CV kepada email yang tertera sambil diiringi do’a dan harapan semoga ini bisa menjadi jalan saya untuk pergi ke Papua.

Minggu demi minggu berlalu, saya diberikan kesempatan untuk bekerja di dua perusahaan di Surabaya, tetapi keputusan belum saya ambil. Saya masing teringat, siang hari di bulan ramadan saya mendapatkan telefon bahwa saya harus mengikuti interview online sebagai seleksi untuk program magang di Papua, apa yang saya rasakan? Senang dan khawatir.

Interview sudah berlalu, entah kenapa saya yakin akan diterima sehingga saya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan bekerja di Surabaya dan memilih untuk yakin melanjutkan perjuangan program magang di Papua ini.

Tahap demi tahap saya lewati sampai akhirnya diminta pergi ke Jakarta untuk melakukan interview secara langsung. Kaget, karena memang saya tidak mempersiapkan apapun terlebih lagi ketika itu H-10 hari sebelum lebaran, saya langsung beli tiket dan pamit ke orang tua untuk pergi ke Jakarta dengan meminta doa restu kepada orang tua dan seluruh keluarga.

Berkah ramadan, mungkin ini menjadi salah satu ramadan paling istimewa, di bulan ramadan ini Tuhan memberikan banyak sekali nikmat kepada saya termasuk sebuah email yang berisi bahwa saya menjadi salah satu peserta magang ke Papua. WOW! Amazing! Saya bahagia dan luar biasa setelah melewati beberapa tahap dan mengalahkan ratusan orang lainnya untuk berangkat ke Papua. Do’a serta dukungan yang diberikan banyak pihak menjadi kunci keberhasilan saya, saya yang tidak mempersiapkan apapun jika dibandingkan dengan teman yang lain diberikan amanah dan kesempatan untuk bisa berangkat ke Papua dan menimba banyak cerita dan pengalaman di sana.

Briefing di Kantor BP sebelum keberangkatan ke Papua

Briefing di Kantor BP sebelum keberangkatan ke Papua

Sebelum berangkat ke Papua terlebih dahulu saya dan rekan yang lainnya melakukan medical Checkup, alhamdulillah saya sehat. Setelah itu kami diberikan briefing untuk memberikan gambaran dan penjelasan mengenai tempat kami magang. Semakin penasaran tentunya dan tidak sabar untuk segera berangkat dan melihat keindahan Papua. Akhirnya kami pun berangkat, bismillah.

Bandara Rendani Manokwari

Bandara Rendani Manokwari

Sesampainya di Manokwari, Papua Barat saya sangat exited sekali, waaahh sudah sampai Papua juga akhirnya. Tidak lupa untuk mengabadikan foto untuk pertama kalinya di tanah Papua. Setelah itu kami harus menempuh perjalanan darat menggunakan mobil double cabin 4×4 untuk menempuh jarak ratusan kilometer selama 7 jam. Lama memang, tapi tetap exited.

Mobil yang biasanya digunakan untuk menuju Bintuni dari Manokwari

Mobil yang biasanya digunakan untuk menuju Bintuni dari Manokwari

 

Keindahan Gunung Botak (Perjalanan Bintuni – Manokwari)

Keindahan Gunung Botak (Perjalanan Bintuni – Manokwari)

Selain saya menjadi peserta magang dan menjalankan keseharian saya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertera dalam kontrak, banyak hal lain yang saya pelajari selama di Bintuni, Papua Barat. Cerita dan kisah yang memberikan saya ilmu baru dalam kehidupan. Saya tidak menyangka teman-teman yang tergabung dalam program TIEDP (Tanggung Indigenous Enterprise Development Program) menerima saya dengan sangat baik, tidak butuh waktu lama untuk mengenal seluruh rekan kerja saya yang berasal dari Bintuni (Indigenous People) mereka sangat ramah dan terbuka dengan saya untuk menceritakan banyak hal, begitupun sebaliknya saya terbuka dengan mereka mengenai tujuan saya disini dan lain lain sebagainya. Rekan kerja saya terdiri dari Mama (sebutan untuk ibu-ibu) dan Kaka (sebutan untuk yang muda), mereka sangat kooperatif dan memberikan saya pengalaman baru berinteraksi secara langsung dengan masyarakat asli, ada rasa bangga dapat diterima dengan baik oleh mereka, ada rasa haru karena para Mama sudah menganggap saya sebagai anak, begitupun saya menganggap Mama semua sebagai ibu saya. Saya banyak bercerita, berbagi kisah dengan mereka, dan saya mendapatkan banyak sekali nasihat dan pelajaran hidup dari mereka.

 Sebagian Rekan Kerja di Bintuni

Sebagian Rekan Kerja di Bintuni

Kedekatan sudah seperti layaknya Ibu dan Anak terjalin antara saya dengan Mama di sini, sangat teringat sekali momen-momen bersama dengan mereka, menghabiskan waktu bersama dan menceritakan kisah-kisah. I find new family here, dan inilah yang menjadi alasan saya bahagia berada di sini. Jauh dari orang tua dan menemukan orang tua baru, jauh dari teman dan menemukan teman baru, jauh dari keluarga dan menemukan keluarga baru. Saya selalu terharu ketika mengingat kebersamaan ini, ketika saya kembali ke kota asal saya dan bercerita mengenai kedekatan di sana, saya terharu.

Masyarakat Asli Bintuni yang tergabung dalam Program TIEDP

Masyarakat Asli Bintuni yang tergabung dalam Program TIEDP

Pekerjaan yang banyak memang terasa memberatkan, tetapi saya menjalaninya dengan semangat dan senang hati karena keluarga baru saya, dan ketika melaksanakan pekerjaan itu banyak pengetahuan baru yang saya peroleh. Saya bertugas menjadi seorang Human Resource, membentuk good rapport dan melakukan persuasi kepada seluruh rekan kerja. Saya berkunjung ke beberapa rumah rekan kerja, ada yang rumahnya dekat sungai, ada yang harus naik ke bukit dulu dan masih banyak yang lain, perjuangan memang terlebih lagi ketika hujan tetapi itulah tantangannya dan saya sangat bahagia melakukan itu. Melihat secara langsung kehidupan rekan kerja d rumahnya, kondisi rumah nya, keluarga nya dan kehidupan sehari-hari nya. Selalu tertegun melihat bagaimana kehidupan mereka, mereka bisa menikmati dengan kondisi dan kehidupan seperti itu. Bersyukur sekali dengan kehidupan yang saya jalani, memang cara bersyukur adalah dengan selalu melihat ke bawah dan jangan pernah melihat ke atas, karena nantinya kebersyukuran itu akan hilang.

Suasana berkumpul keluarga SUBITU

Suasana berkumpul keluarga SUBITU

 

Acara Yospan (Yosim Pancar) di Jalan Raya Bintuni

Acara Yospan (Yosim Pancar) di Jalan Raya Bintuni

Selain bekerja, saya selalu mengatakan dalam diri saya bahwa di Bintuni bukan utuh untuk bekerja, tetapi untuk mengabdi. Sejak dulu saya selalu ingin bisa melakukan social activities di Papua, dan ketika diberikan kesempatan seperti sekarang saya akan manfaatkan dengan baik. Kata mengabdi saya gunakan karena sejatinya di Bintuni bekerja harus dilandasi dengan rasa cinta dan kasih. Saya dengan Pak Samuk (salah satu tim BP) serta beberapa tim lainnya berdiskusi banyak mengenai kegiatan sosial yang akan dilakukan di Bintuni, alhamdulillah setelah diskusi, saling bertukar pikiran akhirnya memutuskan untuk membentuk Relawan Bintuni. Relawan Bintuni terdiri dari saya dan tim serta beberapa anak muda asli Bintuni, kami memiliki keinginan untuk dapat memberikan manfaat bagi Bintuni terutama di bidang sosial dan pendidikan.

Relawan Bintuni turut serta mengajak tim BSEP yang bergerak di bidang pengembangan pendidikan di Bintuni, diskusi selalu dilakukan, baik offline atau berkumpul di ruang rapat. Hingga akhirnya diputuskan untuk membuat Kelas Inspirasi. Alhamdulillah berawal dari obrolan akhirnya menjadi kenyataan.

Hanya diberikan waktu 1 minggu untuk menyelesaikan persiapan pelaksanaan Kelas Inspirasi, karena memang kami dikejar waktu untuk menyesuaikan dengan teman-teman asli Bintuni yang mendapatkan beasiswa di Surabaya karena mereka harus kembali ke tempat kuliahnya. Karena tim bekerja dengan sangat baik dan kompak akhirnya persiapan itu dapat diselesaikan dengan baik dan Kelas Inspirasi Go To School terwujud. Kenapa KI Go To School? Karena KI seharusnya dilaksanakan di SD/Sederajat tetapi karena kami melaksanakannya di SMA maka kami namakan KI Go TO School. Pemilihan SMA dimaksudkan untuk menjaring masa sebanyak-banyaknya karena kami komunitas yang baru dan membutuhkan banyak dukungan dan di perkenalkan di Bintuni oleh karena itu kami melakukan “roadshow” ke SMA yang ada di Bintuni.

Kegiatan Kelas Inspirasi

Kegiatan Kelas Inspirasi

Saya senang sekali ketika diterima dengan baik oleh sekolah dan seluruh siswa, karena perbedaan kami bukan menjadi alasan dan penghalang untuk tidak bersinergi bersama dan bekerja sama dengan baik. Mereka sangat baik menerima kami, diluar ekspektasi dan saya pribadi sangat senang. Masih banyak Pekerjaan Rumah yang menunggu untuk dikerjakan agar kami bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat Bintuni. Semangat!!

Memang, Bintuni bukan kota yang ramai dan penuh dengan banyak hiburan. Kota ini sangat sederhana, hanya ada sedikit tempat hiburan yang bisa kita kunjungi dan tidak banyak tempat wisata yang dapat kami datangi untuk sejenak menyenangkan diri dan me refresh pikiran. Tetapi semua itu memberikan saya pelajaran untuk hidup tanpa social media (di sana internet lemot dan jaringannya tidak stabil), hidup dengan sederhana dan liburan tidak perlu mewah yang penting bahagia dan dilakukan secara bersama.

Sungai Di Bintuni

Sungai Di Bintuni

Bintuni mengajarkan saya mengenai cara mencintai dengan sudut pandang lain, bukan dari bagaimana dia secara fisik, tetapi bagaimana hati dia dan cinta kasih dia yang diberikan kepada pasangannya. Bintuni mengajarkan saya untuk bersyukur dengan cara yang lebih baik, Bintuni mengajarkan saya bagaimana perbedaan bukan menjadi alasan untuk tidak bisa bersama, dan Bintuni memberikan banyak makna untuk kehidupan.

Mengetahui sisi lain dari Indonesia yang berada di bagian paling timur tanah ibu pertiwi, belajar mengenai budaya dan bahasa, bertemu dengan orang lain yang berbeda dari banyak sisi dan berbagi pengalaman dan pengetahuan, itu menjadi sedikit kisah selama di Bintuni.

Bintuni, dengan segala keterbatasannya dapat bercerita dengan caranya. Menyentuh hati penghuninya dengan segala keindahannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *